Selasa, 20 November 2012

terapi dan pendampingan ADHD


Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif
Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global.
 ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gangguan ini bersifat persisten (menetap) dan dapat muncul pada usia 5-6 tahun, manakala ia mulai memasuki jenjang pendidikan formal.
Bagaimanakah ciri anak ADHD? Bagaimana pula penanganan dan pendampingannya? Bagaimana pula kasus-kasus ini terjadi di Indonesia, khususnya Kota Bandung? Jawaban atas pertanyaan tersebut terjawab dalam seminar "Deteksi dan Penanganan anak ADHD" yang diselenggarakan RS Al Islam (RSAI) Bandung, belum lama ini.
Terus meningkat
 Jumlah anak penderita hiperaktif di Kota Bandung terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari angka kunjungan pasien yang masuk ke Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Al Islam Bandung. Wadir Bidang Medik & Keperawatan RS Al Islam Bandung dr. Rita Herawati, Sp.Pk., tahun 2006 RSAI menerima pasien 31 orang. Akan tetapi, tahun berikutnya meningkat menjadi 40 orang.
Di beberapa negara lain, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif.
"Untuk Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pastinya. Namun, bila melihat angka kunjungan ke Poliklinik Tumbuh Kembang RS Al Islam, anak hiperaktif cenderung meningkat," ujar Rita di hadapan peserta seminar.
 Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global yang berupa racun-racun, kadar polutan dan timbal yang terus meningkat, makanan berwarna, dan virus-virus yang tidak terdeteksi selama kehamilan ataupun pascakehamilan.
 Gangguan tersebut menurut Rita bersifat organik (menetap) karena organ tubuh yang diserangnya adalah otak. Bahkan, ia beberapa ahli menyebutkan, hiperaktif merupakan penyakit degenartif (bawaan) sejak lahir. "Bila salah satu keluarga ada yang hiperaktif, turunan keluarga berikutnya terdapat pula anak yang hiperaktif," ujarnya.
 Penderita hiperaktif, kata Rita, tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, yang semestinya dilakukan bagaimana si penderita tersebut diadaptasikan sedemikian rupa sesuai dengan energi yang dimilikinya. Karena pada umumnya, anak-anak hiperaktif mempunyai energi yang berlebih sehingga ia tidak dapat fokus pada satu hal.
 Proses penyembuhan anak hiperaktif memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan para ahli, seperti dokter anak, psikolog, ahli terapi wicara, ahli saraf anak, dan rekam medik. Pada prosesnya, penyembuhan anak hiperaktif harus melibatkan anak, orang tua, guru, dokter, dan tim ahli yang menangani.
 Dapat terdeteksi
 Anak penderita ADHD dapat terdeteksi pada saat usia anak 5-6 tahun. Ketika anak sudah mulai memasuki wilayah sosial, sekolah misalnya, aktivitasnya yang berlebih tampak lebih menonjol dibandingkan dengan anak yang lain.
 Anak ADHD dapat teridentifikasi dari tiga ciri, inatensi, hipersensitif, dan impulsif. Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
 "Guru yang tidak mengerti anak ADHD, akan menyebut anak itu sebagai anak yang nakal dan bodoh," kata dr. Nelly, ahli yang menangani beberapa kasus anak ADHD di RS Al Islam. Hal ini karena di kelas, anak ADHD sering membuat onar dan nilai-nilai ulangannya buruk.
 Beberapa ciri spesifik lain yang dapat dikenali, anak ADHD inatensi. Sering tidak dapat memusatkan perhatian, ceroboh, dan sulit mempertahankan perhatian dalam tugas atau aktivitas bermain. Anak ini juga tampak seperti tidak mendengar saat diajak berbicara langsung, tidak mengikuti perintah, dan sering menolak kalau diberi tugas. Perhatiannya lebih sering beralih oleh stimulus luar sehingga ia sering lupa.
 Sedangkan anak hipersensivitas tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
Hampir sama dengan itu, anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Tidak semua anak ADHD mengalami ketiga gangguan tersebut. Adakalanya, anak ADHD hanya mengalami gangguan satu atau dua dari gejala tersebut. Hal itu bergantung pada tipenya. Ada tiga tipe anak ADHD, yakni ADHD campuran (terpenuhi kriteria inatensi dan hiperaktivitas), ADHD predominan adalah ADHD tipe intensi dan ADHD predominan tipe hiperaktif impulsif.
 Diagnosis banding ADHD dapat diamati dengan lebih cermat. Sebab, kemungkinan anak tersebut tidak termasuk ADHD. Akan tetapi, anak yang normal tapi aktif, mengalami stres kronis, gangguan stres pascatrauma, gangguan cemas, depresi, dalam pengaruh stimulasi, mengalami gangguan belajar, atau mengalami gangguan mood dini. "Untuk kepastiannya, perlu penanganan dokter ahli dan psikolog," ungkap dr. Nelly.
 Terapi sembuh 
 Penyembuhan anak ADHD dapat dilakukan dengan terapi perilaku dan pengobatan medik. Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). 
 Anak ADHD adalah anak yang sulit dalam mengatur sesuatu. Mereka umumnya tumbuh kembang menjadi anak yang kurang dapat mengatur diri. Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Upayakan tempat belajar serapi mungkin. Tidak ada benda-benda yang dapat memecahkan perhatiannya seperti TV, gambar-gambar, radio, sebaiknya dihindarkan.
 Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi. Cara kerja anak ADHD berbeda dengan anak biasa. Pada umumnya mereka lebih mampu berpikir dengan cara melalui gambar. Malah bila IQ anak tersebut diukur, kemampuannya kemungkinan di atas rata-rata, tetapi nilai yang diperolehnya justru buruk.
 Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 
 Selain pola terapi perilaku seperti itu, perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti ini, kata Nelly, dapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan. Jika respons terapi membaik, sebaiknya penggunaan tidak diperpanjang. (Eriyanti/"PR") ***
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731


BONE, KOMPAS.com — Demi menyambung hidup, Muhammad Arif (47), seorang tunanetra di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, harus bekerja sebagai petani dan beternak. Terbukti, keterbatasannya ternyata tak membatasinya untuk sukses melakoni pekerjaannya bersama istri tercinta. Dari hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun, pria ini mampu membeli sebidang tanah untuk rumah hunian serta tiga petak sawah dan empat sapi.

Apa yang dilakukan Arif bukan tanpa tantangan. Saat mengembala ternak, warga Pakkawarue, Kelurahan Tanete, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ini harus berjuang sangat keras. Pasalnya, selain harus menggembala sapinya ke kebun milik warga, setiap hari ia juga harus memotong rumput untuk pakan. Belum lagi, ketika sapinya mengamuk meski tali kekang sudah ada di genggamannya. Jika demikian adanya, maka kesabaran dan keteguhan Arif yang mengalahkan segala kesulitan itu.

Arif mengaku mengalami kebutaan sejak berusia tiga tahun akibat penyakit katarak. Pria ini pun hingga sekarang tak mengetahui siapa orangtua yang melahirkannya karena ia tinggal di panti asuhan kecil. "Saya besar di panti asuhan, jadi saya tidak tahu siapa orangtua saya karena katanya saya ini anak dibuang," ujarnya saat mengisahkan perjalanan hidupnya, Senin (2/7/2012).
Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya.
Awalnya, Arif bukanlah petani. Dulu ia bekerja sebagai tukang pijat keliling di Kota Watampone, Kabupaten Bone. Namun kerasnya persaingan membuat Arif memilih mencari usaha lain. "Sampai sekarang saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah bisa saya sembuhkan. Saya berhenti karena di kota sudah banyak panti pijat dan salon plus-plus," ujar Arif sambil tertawa.

Kini Arif lebih bersyukur karena tidak lagi mengandalkan bantuan orang lain. Arif hanya berharap agar segera memiliki keturunan. Sejak 10 tahun pernikahannya, ia belum dikaruniai momongan.

Saat Kompas.com berpamitan untuk pulang, ia sempat berpesan agar menghilangkan rasa putus asa dalam hidup.
Arif mencontohkan dirinya yang buta, tetapi bisa sukses dan bahagia di dalam rumah tangga bersama sang istri. "Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya, dan jangan terlalu banyak berharap sama bantuan orang. Kalau hati kita yakin untuk dapat mengerjakan pekerjaan itu, maka kerjakan, Insya Allah pasti selesai," kata Muhammad Arif.
Editor :
Glori K. Wadrianto

Minggu, 11 November 2012


PENGERTIAN ANAK TUNA NETRA
Tunanetra adalah suatu kondisi dari indera penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya walau sudah dikoreksi dengan alat bantu apapun.
Dipandang dari segi bahasa, kata tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:971) Tuna mempunyai arti rusak, luka, kurang, tidak memiliki, sedangkan netra (Depdikbud, 1990: 613) artinya mata. Tunanetra berarti rusak matanya atau luka matanya atau tidak memiliki mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatannya. 
Menurut Alana M. zambone, Ph.D., dalam bukunya yang berjudul Teaching Children With Visual and Additional Disabilities (Alana, 1992: 59) seseorang dikatakan buta total bila tidak mempunyai bola mata, tidak dapat membedakan terang dan gelap, tidak dapat memproses apa yang dilihat pada otaknya yang masih berfungsi.
Menurut Nakata (2003) mengemukakkan bahwa yang dimaksud dengan tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka yang mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan atau ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar. Pengukuran ketajaman penglihatan dilakukan dengan mempergunakan chart internasional yang disebut eyesight-test.
Sedangkan Persatuan Tunanetra Indonesia / Pertuni (2004) mendefinisikan ketunanetraan sebagai berikut: Orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata (kurang awas). Ini berarti bahwa seorang tunanetra mungkin tidak mempunyai penglihatan sama sekali meskipun hanya untuk membedakan antara terang dan gelap. Orang dengan kondisi penglihatan seperti ini kita katakan sebagai ”buta total”. Di pihak lain, ada orang tunanetra yang masih mempunyai sedikit sisa penglihatan sehingga mereka masih dapat menggunakan sisa penglihatannya itu untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk untuk membaca tulisan berukuran besar (lebih besar dari 12 point) setelah dibantu dengan kaca mata. Perlu dijelaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan 12 point adalah ukuran huruf standar pada komputer di mana pada bidang selebar satu inci memuat 12 buah huruf. Akan tetapi, ini tidak boleh diartikan bahwa huruf dengan ukuran 18 point, misalnya, pada bidang selebar 1 inci memuat 18 huruf. Tidak demikian. Orang tunanetra yang masih memiliki sisa penglihatan yang fungsional seperti ini kita sebut sebagai orang ”kurang awas” atau lebih dikenal dengan sebutan ”Low vision”.
Secara medis, anak tunanetra memiliki ketajaman visual yang kurang atau sama dengan 6/60 lapang pandangnya kurang dari 200. Sedangkan secara pendidikan anak dengan kecacatan mata adalah apabila penglihatan seseorang tidak dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan, sehingga anak tunanetra memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus. Anak yang jika dalam pemeriksaannya tidak ditemukan kelainan pada penglihatannya, maka tidak dapat dikatakan tunanetra dan tidak perlu mendapatkan pendidikan khusus.

Minggu, 04 November 2012


Sembuhkan Autisme dengan Terapi Kuda di UGM
Margaret Puspitarini
Minggu, 01 April 2012 08:02 wib
Ilustrasi : Corbis
JAKARTA - Banyak terapi yang dapat ditempuh oleh orangtua yang memiliki anak autis. Mulai dari terapi perilaku hingga interaksi dengan binatang. Baru-baru ini Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merintis terapi berkuda bagi anak autis.

Terapi menunggang kuda ini memang belum banyak dilakukan di Indonesia. Namun, kini UGM telah membuka layanan terapi autis dengan berkuda. Program yang telah berjalan mulai awal Maret 2012 tersebut dikembangkan oleh Gadjah Mada Equestrian Center (GMEC), suatu unit kegiatan yang dibentuk bersama-sama antara unit kegiatan mahasiswa (UKM) Berkuda UGM, Laboratorium Ternak Potong dan Kesayangan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, serta Direktorat Kemahasiswaan UGM.

Ketua GMEC Edi Suryanto menyebutkan, hingga saat ini terdapat enam anak yang mengikuti terapi autis dengan berkuda. Lima di antaranya berasal dari Sekolah Autis Fajar Nugraha dan seorang siswa SLB Damayanti.

Edi menyampaikan, anak-anak penderita autis di sini diajak untuk berinteraksi dengan kuda sehingga diharapkan mampu membantu konsentrasi pada penderita. Selain itu juga membantu dalam bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

“Anak-anak diberikan kegiatan mulai dari memberi makan, menyisir rambut dan ekor, memandikan, memasang pelana, hingga akhirnya menunggang kuda,” kata Edi seperti dikutip dari situs UGM, Minggu (1/4/2012).

Terapi ini, lanjut Edi, mampu membantu konsentrasi dan mengurangi agresivitas penderita autis. “Berinteraksi dengan kuda menimbulkan rasa senang pada anak autis serta membantu memfokuskan konsentrasi,” ujar pria yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Usaha Fakultas Peternakan tersebut.

Selain membuka program terapi autis dengan berkuda, GMEC juga menawarkan sekolah berkuda (riding horse) yang mendapat tanggapan positif dari masyarakat umum. “Sekolah berkuda ini cukup mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sejak dibuka Februari lalu terdapat sekira 100 pendaftar, tapi kami hanya batasi menerima 20 orang karena baru memiliki empat ekor kuda,” tuturnya.

Psikolog perkembangan anak UGM Endang Ekowarni menyebutkan, terapi berkuda tergantung pada kondisi pasien dan terapis. Terapis autis juga harus menguasai karakter kuda, tidak untuk sekedar dikendarai.

“Semua sangat tergantung pada kondisi penderita serta kemampuan pelatih dalam melakukan terapi,” kata Endang.(mrg)(rhs)


Minggu, 28 Oktober 2012

Keanekaragaman Budaya : Perubahan Wajah bangsa
Di Amerika masyarakatnya terdiri dari berbagai daratan. Faktanya, hanya sekitar 1 persen orang Amerika asli ( U.S Census Bureau, 2009a).
Perkiraan para ahli tentang fakta di atas :
Di tahun 2020, keberagaman murid diperkirakan hampir setengah dari semua remaja usia sekolah
Di tahun 2050, populasi di Amerika di proyeksikan kira-kira menjadi 45% keturunan Inggris 31% keturunan latin, 12 % kulit hitam, 8% Asia dan 1 % penduduk asli Amerika dengan 3 % dari penduduk tersebut teridentifikasi berkelompok-kelompok (U.S census Bureau 2009c)
Kira-kira satu dari lima penduduk Amerika atau kurang lebih 20% dari populasi amerika yang berusia 5 tahun berbahasa Inggris (U.S census Bureau 2009b)
Perbedaan Budaya di dalam Sistem Mengajar
 
 
•Sebagian pelajar dan pengajar berasal dari kebudayaan yang beragam.
•Sebagian besar pengajar pendidikan khusus berasal dari ras Kaukasoid,yang lain merupakan ras Afrika-Amerika, dan ras Hispanik.
•Keberagaman pengajar menyebabkan sulit berkembangnya cara mengajar.
•Pada tahun mendatang, pemerintah merencanakan penyeragaman tenaga pengajar.
•Sebaiknya pendidik dan peserta didik berasal dari daerah yang sama agar memudahkan proses belajar mengajar
Dari asimilasi ke kemajemukan budaya
 
Tujuan dari asimilasi atau mencampurkan proses menjadi seperti orang Amerika adalah memperluas jumlah penduduk baru, Mereka diantisipasi untuk meninggalkan bahasa asli mereka, warisan,budaya kepercayaan dan kebiasaan
  Keberagaman suku tidak meminta kelompok untuk melepaskan atau menelantarkan warisan budaya mereka. Sekarang, sekolah-sekolah lebih menghargai kekayaan dan keanekaragaman yang dibawa. Keanekaragaman lebih terlihat sebagai kekuatan daripada keburukan.
Terminologi dari Keberagaman Budaya
 
•Dalam beberapa kasus sulit untuk mengidentifikasi siswa berasal dari ras apa.
•Topik keragaman budaya dan bahasa dengan mudah dapat menjadi sumber kebingungan dan kontroversi.
•Kunci untuk memulai ini semua adalah pemahaman tentang apa yang kita maksud dengan budaya.
 
Pembagian grup ras khas di Amerika
 
pAmerican indian / pribumi alaska, yaitu orang yang memiliki asal usul dalam salah satu masyarakat asli Amerika utara da memelihara indentifikasi budaya melalui afiliasi suku  atau pengakuan masyarakat.
pAsian / kepulauan Pasifik, yaitu orang yang memiliki asal usul dalam salah satu masyarakat asli dari Far East, Asia Tenggara, Pulau Pasifik atau anak benua India, daerah ini termasuk Cina, India, Jepang, Korea, Kepulauan Filipina dan Samoa.
pHispanic, yaitu orang dari meksiko, puerto rico, Kuba, Amerika tengah atau selatan atau budaya Spanyol lain atau asal tanpa memandang ras.
pNegroid( bukan keturunan Hispanic)  yaitu orang asli dari banyak ras kulit hitam di Afrika.
pKaukasoid(bukan Hispanic ) yaitu orang keturunan dari banyak orang asli Eropa, Afrika Utara, atau Asia tengah.
 
Tujuan Pendidikan Multikultural
 Ekuitas Pendidikan
Reformasi sekolah, perubahan budaya kelas dan sekolah, kurikulum harapan guru, penilaian, teks dan bahan kurikulum tersembunyi
Hubungan Manusia Global
Membangun penghargaan diri terhadap diri sendiri dan kelompok, memberi kuasa/wewenang kepada murid dan orang tua
 
Lintas Kompetensi Budaya
 
Pengetahuan dari budaya yang sama, pengetahuan dari budaya lain.
 
Budaya Pluralisme
 
Menghargai keberagaman dari semua jenis di sekolah dan masyarakat
 
Sosialisasi Rekontruksi
Menghadapi dan mengubah keyakinan dan sikap
 
Intregasi Studi
 
Tentang kelompok-kelompok etnis dan isu-isu global