Selasa, 20 November 2012

contoh makalah telaah kritis


MAKALAH TELAAH KRITIS
“Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif ”
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Rehabilitasi Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu: Drs. A. Salim Choiri, M.Si

Disusun oleh:
 Nama                    :SUSIANA
                                                  NIM                     :K5112069          

Pendidikan Luar Biasa
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2012

DAFTAR ISI

Halaman judul……………………………………………………     1
Daftar isi........................................................................................     2
Garis besar artikel..........................................................................     3
Telaah artikel..................................................................................     5
Kesimpulan....................................................................................     7
Daftar pustaka...............................................................................     8
Lampiran........................................................................................     9















GARIS BESAR ARTIKEL

“Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif ”

           
Pengertian
ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas
            Ciri-ciri
a.                   inatensi,
 Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
b.                  hipersensitif, 
            tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
c.                   Impulsif
            anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Terapi sembuh 
1.                Terapi perilaku
Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi.
Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 


2.                Terapi obat
Perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti inidapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan.



TELAAH ARTIKEL

1.                  Menurut Pendapat Media

Ø    Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa ADHD berhubungan dengan fungsi otak, terutama pada bagian yang bertanggung jawab mengatur pemusatan perhatian, konsentrasi, pengaturan emosi, dan pengendalian perilaku. Terapi medis biasanya berupa pemberian beberapa macam obat dengan sasaran area tersebut, yaitu membantu memusatkan perhatian dan mengendalikan perilaku, termasuk perilaku agresif.
Ø    Teori ADHD menjadi "sindrom perilaku yang mengganggu kehidupan pribadi dan komunitas melalui kekurangan perhatian, miskin kontrol impuls, suasana hati peledak pola emosional dan tidak dapat dijelaskan agresi dan kekerasan" pertama kali menuliskan pada tahun 1890 oleh William James. Anak-anak yang orang tuanya memilih untuk mengobati orang ternoda sebagai orangtua yang buruk, sering dikutip sebagai tidak mampu mengendalikan anak mereka atau mereka dianggap sebagai orangtua malas. Mereka juga mengalami "penyesuaian emosional sosial dan kesulitan" yang menyebabkan mereka harus dipilih dan sering ditegur oleh guru mereka (National Institute of Mental Health [ NIMH] 1997; Chadd 1995).
Ø    Pada tahun 2001, American Academy of Pediatrics (AAP), dalam Pedoman Praktek Klinis, menyarankan agar ketika merawat ADHD target gejala, "dokter harus merekomendasikan obat stimulan dan / atau terapi perilaku yang sesuai." Beberapa bentuk intervensi perilaku telah ditemukan untuk menunjukkan sedikit atau tidak ada efektivitas dalam merawat pasien ADHD. Ini termasuk individu atau bermain terapi, psikoterapi jangka panjang, psikoanalisis, pelatihan integrasi sensorik, dan terapi perilaku kognitif. 

Ø    National Institute of Mental Health (NIMH) penelitian telah mengindikasikan bahwa dua modalitas pengobatan paling efektif untuk anak-anak sekolah dasar dengan ADHD adalah perawatan obat dimonitor atau sebuah program yang menggabungkan pengobatan dengan intervensi perilaku intensif (terapi perilaku).
2.                  Menurut Pendapat Pribadi

Menurut pendapat saya,anak yang mengalami ADHD memerlukan terapi atau obat-obatan yang dianjurkan oleh dokter selain itu dalam rangka penyembuhan,orang tua harus memberikan perhatian lebih untuk anak yang menderita ADHD, seperti pengaturan waktu dan mengawasi anaknya.karena anak yang menderita ADHD menunjukkan perilaku yang ingin diperhatikan oleh orang lain.Selain orang tua,guru juga sangat berpengaruh terhadap penyembuhan anak yang mengalami ADHD.karena selain dirumah,anak juga beraktifitas di sekolah,sehingga guru harus mengerti dan lebih memperhatikan anak tersebut.



KESIMPULAN

Terapi untuk anak yang menderita ADHD tidak cukup hanya dengan terapi medik atau pemberian obat-obatan yang dapat membantu memusatkan perhatian dan mengendalikan perilaku, termasuk perilaku agresif.Melainkan dalam hal ini lingkungan juga berperan dalam penyembuhan anak yang menderita ADHD,antara lain orangtua dan guru.Peran orang tua antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). Karena lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.Sedangkan guru berperan dalam pengaturan waktu saat anak berada di sekolah.
















DAFTAR PUSTAKA

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731
http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/12/attention-deficit-hyperactivity.html













LAMPIRAN
Sabtu, 27 Februari 2010
Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif
Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global.
 ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gangguan ini bersifat persisten (menetap) dan dapat muncul pada usia 5-6 tahun, manakala ia mulai memasuki jenjang pendidikan formal.
Bagaimanakah ciri anak ADHD? Bagaimana pula penanganan dan pendampingannya? Bagaimana pula kasus-kasus ini terjadi di Indonesia, khususnya Kota Bandung? Jawaban atas pertanyaan tersebut terjawab dalam seminar "Deteksi dan Penanganan anak ADHD" yang diselenggarakan RS Al Islam (RSAI) Bandung, belum lama ini.
Terus meningkat
 Jumlah anak penderita hiperaktif di Kota Bandung terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari angka kunjungan pasien yang masuk ke Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Al Islam Bandung. Wadir Bidang Medik & Keperawatan RS Al Islam Bandung dr. Rita Herawati, Sp.Pk., tahun 2006 RSAI menerima pasien 31 orang. Akan tetapi, tahun berikutnya meningkat menjadi 40 orang.
Di beberapa negara lain, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif.
"Untuk Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pastinya. Namun, bila melihat angka kunjungan ke Poliklinik Tumbuh Kembang RS Al Islam, anak hiperaktif cenderung meningkat," ujar Rita di hadapan peserta seminar.
 Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global yang berupa racun-racun, kadar polutan dan timbal yang terus meningkat, makanan berwarna, dan virus-virus yang tidak terdeteksi selama kehamilan ataupun pascakehamilan.
 Gangguan tersebut menurut Rita bersifat organik (menetap) karena organ tubuh yang diserangnya adalah otak. Bahkan, ia beberapa ahli menyebutkan, hiperaktif merupakan penyakit degenartif (bawaan) sejak lahir. "Bila salah satu keluarga ada yang hiperaktif, turunan keluarga berikutnya terdapat pula anak yang hiperaktif," ujarnya.
 Penderita hiperaktif, kata Rita, tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, yang semestinya dilakukan bagaimana si penderita tersebut diadaptasikan sedemikian rupa sesuai dengan energi yang dimilikinya. Karena pada umumnya, anak-anak hiperaktif mempunyai energi yang berlebih sehingga ia tidak dapat fokus pada satu hal.
 Proses penyembuhan anak hiperaktif memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan para ahli, seperti dokter anak, psikolog, ahli terapi wicara, ahli saraf anak, dan rekam medik. Pada prosesnya, penyembuhan anak hiperaktif harus melibatkan anak, orang tua, guru, dokter, dan tim ahli yang menangani.
 Dapat terdeteksi
 Anak penderita ADHD dapat terdeteksi pada saat usia anak 5-6 tahun. Ketika anak sudah mulai memasuki wilayah sosial, sekolah misalnya, aktivitasnya yang berlebih tampak lebih menonjol dibandingkan dengan anak yang lain.
 Anak ADHD dapat teridentifikasi dari tiga ciri, inatensi, hipersensitif, dan impulsif. Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
 "Guru yang tidak mengerti anak ADHD, akan menyebut anak itu sebagai anak yang nakal dan bodoh," kata dr. Nelly, ahli yang menangani beberapa kasus anak ADHD di RS Al Islam. Hal ini karena di kelas, anak ADHD sering membuat onar dan nilai-nilai ulangannya buruk.
 Beberapa ciri spesifik lain yang dapat dikenali, anak ADHD inatensi. Sering tidak dapat memusatkan perhatian, ceroboh, dan sulit mempertahankan perhatian dalam tugas atau aktivitas bermain. Anak ini juga tampak seperti tidak mendengar saat diajak berbicara langsung, tidak mengikuti perintah, dan sering menolak kalau diberi tugas. Perhatiannya lebih sering beralih oleh stimulus luar sehingga ia sering lupa.
 Sedangkan anak hipersensivitas tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
Hampir sama dengan itu, anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Tidak semua anak ADHD mengalami ketiga gangguan tersebut. Adakalanya, anak ADHD hanya mengalami gangguan satu atau dua dari gejala tersebut. Hal itu bergantung pada tipenya. Ada tiga tipe anak ADHD, yakni ADHD campuran (terpenuhi kriteria inatensi dan hiperaktivitas), ADHD predominan adalah ADHD tipe intensi dan ADHD predominan tipe hiperaktif impulsif.
 Diagnosis banding ADHD dapat diamati dengan lebih cermat. Sebab, kemungkinan anak tersebut tidak termasuk ADHD. Akan tetapi, anak yang normal tapi aktif, mengalami stres kronis, gangguan stres pascatrauma, gangguan cemas, depresi, dalam pengaruh stimulasi, mengalami gangguan belajar, atau mengalami gangguan mood dini. "Untuk kepastiannya, perlu penanganan dokter ahli dan psikolog," ungkap dr. Nelly.
 Terapi sembuh 
 Penyembuhan anak ADHD dapat dilakukan dengan terapi perilaku dan pengobatan medik. Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). 
 Anak ADHD adalah anak yang sulit dalam mengatur sesuatu. Mereka umumnya tumbuh kembang menjadi anak yang kurang dapat mengatur diri. Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Upayakan tempat belajar serapi mungkin. Tidak ada benda-benda yang dapat memecahkan perhatiannya seperti TV, gambar-gambar, radio, sebaiknya dihindarkan.
 Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi. Cara kerja anak ADHD berbeda dengan anak biasa. Pada umumnya mereka lebih mampu berpikir dengan cara melalui gambar. Malah bila IQ anak tersebut diukur, kemampuannya kemungkinan di atas rata-rata, tetapi nilai yang diperolehnya justru buruk.
 Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 
 Selain pola terapi perilaku seperti itu, perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti ini, kata Nelly, dapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan. Jika respons terapi membaik, sebaiknya penggunaan tidak diperpanjang. (Eriyanti/"PR") ***
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731





Masalah apa saja yang akan dihadapi oleh anak autis sesuai dengan perkembangan usianya ?

Berdasarkan pengalaman pribadi,akan lebih mudah membagi masalah autisme sesuai  dengan periode 5 tahun perkembangan anak.
Misalnya,pada saat anak berusia di bawah 5 tahun,fokus utamanya adalah:
•  Mencari diagnosa yang akurat
•     Mencari    informasi    tentang    autisme
•     Mempersiapkan    mental    untuk    dapat    menerima kenyataan bahwa putra atau putri mereka menyandang autis (untuk orang tua).
•     Mencari    informasi    tentang    terapi    yang diperlukan
•     Mengajarkan    kepatuhan
•     Mengamati    kebutuhan,    keterbatasan
kemampuan dan kelebihan anak
•     Mempertimbangkan    diet    GFCF    (Gluten Free Casein Free)
•     Mengukur    kemampuan    keluarga    dari    segi    waktu,tenaga dan biaya dalam menjalankan program penanganan autisme.
Usia 5 hingga 10 tahun,isu utamanya adalah:
•     Meningkatkan    kemampuan    anak    untuk    dapat  mandiri
•     Mempersiapkan    anak    untuk    sekolah
•     Mempersiapkan    anak    untuk    mulai    bersosialisasi
•     Melaksanakan    diet    GFCF    (Gluten Free Casein Free)
•     Melaksanakan    terapi    yang    diperlukan
•     Menceritakan    diagnosa    pada    saudara    sekandung
Usia remaja yang mungkin dimulai sekitar 10 hingga 15 tahun ditandai dengan isu seputar:
•     Kemandirian
•     Identitas    diri    (perubahan    fisik,    hormon    dan    sebagainya).
•     Pergaulan    sosial
•     Pendidikan    seks
•     Tuntutan    akademis    yang    semakin    tinggi
Di usia 15 hingga 20 tahun,orang tua dari anak penyandang autis mulai disibukkan dengan persiapan masa depan bagi anak terutama mengenai kemandirian anak dari segi fisik,sosial maupun nafkah hidup (lapangan kerja). Di usia ini,anak mulai semakin sadar bahwa dirinya berbeda dengan teman-teman sebayanya. Norma-norma sosial tentang apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan,juga merupakan salah satu isu yang kuat,terutama dari segi pendidikan seks.
Sumber:Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”,halaman 138

terapi dan pendampingan ADHD


Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif
Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global.
 ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gangguan ini bersifat persisten (menetap) dan dapat muncul pada usia 5-6 tahun, manakala ia mulai memasuki jenjang pendidikan formal.
Bagaimanakah ciri anak ADHD? Bagaimana pula penanganan dan pendampingannya? Bagaimana pula kasus-kasus ini terjadi di Indonesia, khususnya Kota Bandung? Jawaban atas pertanyaan tersebut terjawab dalam seminar "Deteksi dan Penanganan anak ADHD" yang diselenggarakan RS Al Islam (RSAI) Bandung, belum lama ini.
Terus meningkat
 Jumlah anak penderita hiperaktif di Kota Bandung terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari angka kunjungan pasien yang masuk ke Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Al Islam Bandung. Wadir Bidang Medik & Keperawatan RS Al Islam Bandung dr. Rita Herawati, Sp.Pk., tahun 2006 RSAI menerima pasien 31 orang. Akan tetapi, tahun berikutnya meningkat menjadi 40 orang.
Di beberapa negara lain, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif.
"Untuk Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pastinya. Namun, bila melihat angka kunjungan ke Poliklinik Tumbuh Kembang RS Al Islam, anak hiperaktif cenderung meningkat," ujar Rita di hadapan peserta seminar.
 Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global yang berupa racun-racun, kadar polutan dan timbal yang terus meningkat, makanan berwarna, dan virus-virus yang tidak terdeteksi selama kehamilan ataupun pascakehamilan.
 Gangguan tersebut menurut Rita bersifat organik (menetap) karena organ tubuh yang diserangnya adalah otak. Bahkan, ia beberapa ahli menyebutkan, hiperaktif merupakan penyakit degenartif (bawaan) sejak lahir. "Bila salah satu keluarga ada yang hiperaktif, turunan keluarga berikutnya terdapat pula anak yang hiperaktif," ujarnya.
 Penderita hiperaktif, kata Rita, tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, yang semestinya dilakukan bagaimana si penderita tersebut diadaptasikan sedemikian rupa sesuai dengan energi yang dimilikinya. Karena pada umumnya, anak-anak hiperaktif mempunyai energi yang berlebih sehingga ia tidak dapat fokus pada satu hal.
 Proses penyembuhan anak hiperaktif memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan para ahli, seperti dokter anak, psikolog, ahli terapi wicara, ahli saraf anak, dan rekam medik. Pada prosesnya, penyembuhan anak hiperaktif harus melibatkan anak, orang tua, guru, dokter, dan tim ahli yang menangani.
 Dapat terdeteksi
 Anak penderita ADHD dapat terdeteksi pada saat usia anak 5-6 tahun. Ketika anak sudah mulai memasuki wilayah sosial, sekolah misalnya, aktivitasnya yang berlebih tampak lebih menonjol dibandingkan dengan anak yang lain.
 Anak ADHD dapat teridentifikasi dari tiga ciri, inatensi, hipersensitif, dan impulsif. Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
 "Guru yang tidak mengerti anak ADHD, akan menyebut anak itu sebagai anak yang nakal dan bodoh," kata dr. Nelly, ahli yang menangani beberapa kasus anak ADHD di RS Al Islam. Hal ini karena di kelas, anak ADHD sering membuat onar dan nilai-nilai ulangannya buruk.
 Beberapa ciri spesifik lain yang dapat dikenali, anak ADHD inatensi. Sering tidak dapat memusatkan perhatian, ceroboh, dan sulit mempertahankan perhatian dalam tugas atau aktivitas bermain. Anak ini juga tampak seperti tidak mendengar saat diajak berbicara langsung, tidak mengikuti perintah, dan sering menolak kalau diberi tugas. Perhatiannya lebih sering beralih oleh stimulus luar sehingga ia sering lupa.
 Sedangkan anak hipersensivitas tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
Hampir sama dengan itu, anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Tidak semua anak ADHD mengalami ketiga gangguan tersebut. Adakalanya, anak ADHD hanya mengalami gangguan satu atau dua dari gejala tersebut. Hal itu bergantung pada tipenya. Ada tiga tipe anak ADHD, yakni ADHD campuran (terpenuhi kriteria inatensi dan hiperaktivitas), ADHD predominan adalah ADHD tipe intensi dan ADHD predominan tipe hiperaktif impulsif.
 Diagnosis banding ADHD dapat diamati dengan lebih cermat. Sebab, kemungkinan anak tersebut tidak termasuk ADHD. Akan tetapi, anak yang normal tapi aktif, mengalami stres kronis, gangguan stres pascatrauma, gangguan cemas, depresi, dalam pengaruh stimulasi, mengalami gangguan belajar, atau mengalami gangguan mood dini. "Untuk kepastiannya, perlu penanganan dokter ahli dan psikolog," ungkap dr. Nelly.
 Terapi sembuh 
 Penyembuhan anak ADHD dapat dilakukan dengan terapi perilaku dan pengobatan medik. Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). 
 Anak ADHD adalah anak yang sulit dalam mengatur sesuatu. Mereka umumnya tumbuh kembang menjadi anak yang kurang dapat mengatur diri. Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Upayakan tempat belajar serapi mungkin. Tidak ada benda-benda yang dapat memecahkan perhatiannya seperti TV, gambar-gambar, radio, sebaiknya dihindarkan.
 Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi. Cara kerja anak ADHD berbeda dengan anak biasa. Pada umumnya mereka lebih mampu berpikir dengan cara melalui gambar. Malah bila IQ anak tersebut diukur, kemampuannya kemungkinan di atas rata-rata, tetapi nilai yang diperolehnya justru buruk.
 Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 
 Selain pola terapi perilaku seperti itu, perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti ini, kata Nelly, dapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan. Jika respons terapi membaik, sebaiknya penggunaan tidak diperpanjang. (Eriyanti/"PR") ***
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731


BONE, KOMPAS.com — Demi menyambung hidup, Muhammad Arif (47), seorang tunanetra di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, harus bekerja sebagai petani dan beternak. Terbukti, keterbatasannya ternyata tak membatasinya untuk sukses melakoni pekerjaannya bersama istri tercinta. Dari hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun, pria ini mampu membeli sebidang tanah untuk rumah hunian serta tiga petak sawah dan empat sapi.

Apa yang dilakukan Arif bukan tanpa tantangan. Saat mengembala ternak, warga Pakkawarue, Kelurahan Tanete, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ini harus berjuang sangat keras. Pasalnya, selain harus menggembala sapinya ke kebun milik warga, setiap hari ia juga harus memotong rumput untuk pakan. Belum lagi, ketika sapinya mengamuk meski tali kekang sudah ada di genggamannya. Jika demikian adanya, maka kesabaran dan keteguhan Arif yang mengalahkan segala kesulitan itu.

Arif mengaku mengalami kebutaan sejak berusia tiga tahun akibat penyakit katarak. Pria ini pun hingga sekarang tak mengetahui siapa orangtua yang melahirkannya karena ia tinggal di panti asuhan kecil. "Saya besar di panti asuhan, jadi saya tidak tahu siapa orangtua saya karena katanya saya ini anak dibuang," ujarnya saat mengisahkan perjalanan hidupnya, Senin (2/7/2012).
Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya.
Awalnya, Arif bukanlah petani. Dulu ia bekerja sebagai tukang pijat keliling di Kota Watampone, Kabupaten Bone. Namun kerasnya persaingan membuat Arif memilih mencari usaha lain. "Sampai sekarang saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah bisa saya sembuhkan. Saya berhenti karena di kota sudah banyak panti pijat dan salon plus-plus," ujar Arif sambil tertawa.

Kini Arif lebih bersyukur karena tidak lagi mengandalkan bantuan orang lain. Arif hanya berharap agar segera memiliki keturunan. Sejak 10 tahun pernikahannya, ia belum dikaruniai momongan.

Saat Kompas.com berpamitan untuk pulang, ia sempat berpesan agar menghilangkan rasa putus asa dalam hidup.
Arif mencontohkan dirinya yang buta, tetapi bisa sukses dan bahagia di dalam rumah tangga bersama sang istri. "Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya, dan jangan terlalu banyak berharap sama bantuan orang. Kalau hati kita yakin untuk dapat mengerjakan pekerjaan itu, maka kerjakan, Insya Allah pasti selesai," kata Muhammad Arif.
Editor :
Glori K. Wadrianto

Minggu, 11 November 2012


PENGERTIAN ANAK TUNA NETRA
Tunanetra adalah suatu kondisi dari indera penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya walau sudah dikoreksi dengan alat bantu apapun.
Dipandang dari segi bahasa, kata tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:971) Tuna mempunyai arti rusak, luka, kurang, tidak memiliki, sedangkan netra (Depdikbud, 1990: 613) artinya mata. Tunanetra berarti rusak matanya atau luka matanya atau tidak memiliki mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatannya. 
Menurut Alana M. zambone, Ph.D., dalam bukunya yang berjudul Teaching Children With Visual and Additional Disabilities (Alana, 1992: 59) seseorang dikatakan buta total bila tidak mempunyai bola mata, tidak dapat membedakan terang dan gelap, tidak dapat memproses apa yang dilihat pada otaknya yang masih berfungsi.
Menurut Nakata (2003) mengemukakkan bahwa yang dimaksud dengan tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka yang mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan atau ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar. Pengukuran ketajaman penglihatan dilakukan dengan mempergunakan chart internasional yang disebut eyesight-test.
Sedangkan Persatuan Tunanetra Indonesia / Pertuni (2004) mendefinisikan ketunanetraan sebagai berikut: Orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata (kurang awas). Ini berarti bahwa seorang tunanetra mungkin tidak mempunyai penglihatan sama sekali meskipun hanya untuk membedakan antara terang dan gelap. Orang dengan kondisi penglihatan seperti ini kita katakan sebagai ”buta total”. Di pihak lain, ada orang tunanetra yang masih mempunyai sedikit sisa penglihatan sehingga mereka masih dapat menggunakan sisa penglihatannya itu untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk untuk membaca tulisan berukuran besar (lebih besar dari 12 point) setelah dibantu dengan kaca mata. Perlu dijelaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan 12 point adalah ukuran huruf standar pada komputer di mana pada bidang selebar satu inci memuat 12 buah huruf. Akan tetapi, ini tidak boleh diartikan bahwa huruf dengan ukuran 18 point, misalnya, pada bidang selebar 1 inci memuat 18 huruf. Tidak demikian. Orang tunanetra yang masih memiliki sisa penglihatan yang fungsional seperti ini kita sebut sebagai orang ”kurang awas” atau lebih dikenal dengan sebutan ”Low vision”.
Secara medis, anak tunanetra memiliki ketajaman visual yang kurang atau sama dengan 6/60 lapang pandangnya kurang dari 200. Sedangkan secara pendidikan anak dengan kecacatan mata adalah apabila penglihatan seseorang tidak dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan, sehingga anak tunanetra memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus. Anak yang jika dalam pemeriksaannya tidak ditemukan kelainan pada penglihatannya, maka tidak dapat dikatakan tunanetra dan tidak perlu mendapatkan pendidikan khusus.

Minggu, 04 November 2012


Sembuhkan Autisme dengan Terapi Kuda di UGM
Margaret Puspitarini
Minggu, 01 April 2012 08:02 wib
Ilustrasi : Corbis
JAKARTA - Banyak terapi yang dapat ditempuh oleh orangtua yang memiliki anak autis. Mulai dari terapi perilaku hingga interaksi dengan binatang. Baru-baru ini Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merintis terapi berkuda bagi anak autis.

Terapi menunggang kuda ini memang belum banyak dilakukan di Indonesia. Namun, kini UGM telah membuka layanan terapi autis dengan berkuda. Program yang telah berjalan mulai awal Maret 2012 tersebut dikembangkan oleh Gadjah Mada Equestrian Center (GMEC), suatu unit kegiatan yang dibentuk bersama-sama antara unit kegiatan mahasiswa (UKM) Berkuda UGM, Laboratorium Ternak Potong dan Kesayangan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, serta Direktorat Kemahasiswaan UGM.

Ketua GMEC Edi Suryanto menyebutkan, hingga saat ini terdapat enam anak yang mengikuti terapi autis dengan berkuda. Lima di antaranya berasal dari Sekolah Autis Fajar Nugraha dan seorang siswa SLB Damayanti.

Edi menyampaikan, anak-anak penderita autis di sini diajak untuk berinteraksi dengan kuda sehingga diharapkan mampu membantu konsentrasi pada penderita. Selain itu juga membantu dalam bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

“Anak-anak diberikan kegiatan mulai dari memberi makan, menyisir rambut dan ekor, memandikan, memasang pelana, hingga akhirnya menunggang kuda,” kata Edi seperti dikutip dari situs UGM, Minggu (1/4/2012).

Terapi ini, lanjut Edi, mampu membantu konsentrasi dan mengurangi agresivitas penderita autis. “Berinteraksi dengan kuda menimbulkan rasa senang pada anak autis serta membantu memfokuskan konsentrasi,” ujar pria yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Usaha Fakultas Peternakan tersebut.

Selain membuka program terapi autis dengan berkuda, GMEC juga menawarkan sekolah berkuda (riding horse) yang mendapat tanggapan positif dari masyarakat umum. “Sekolah berkuda ini cukup mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sejak dibuka Februari lalu terdapat sekira 100 pendaftar, tapi kami hanya batasi menerima 20 orang karena baru memiliki empat ekor kuda,” tuturnya.

Psikolog perkembangan anak UGM Endang Ekowarni menyebutkan, terapi berkuda tergantung pada kondisi pasien dan terapis. Terapis autis juga harus menguasai karakter kuda, tidak untuk sekedar dikendarai.

“Semua sangat tergantung pada kondisi penderita serta kemampuan pelatih dalam melakukan terapi,” kata Endang.(mrg)(rhs)