Selasa, 20 November 2012

BONE, KOMPAS.com — Demi menyambung hidup, Muhammad Arif (47), seorang tunanetra di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, harus bekerja sebagai petani dan beternak. Terbukti, keterbatasannya ternyata tak membatasinya untuk sukses melakoni pekerjaannya bersama istri tercinta. Dari hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun, pria ini mampu membeli sebidang tanah untuk rumah hunian serta tiga petak sawah dan empat sapi.

Apa yang dilakukan Arif bukan tanpa tantangan. Saat mengembala ternak, warga Pakkawarue, Kelurahan Tanete, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ini harus berjuang sangat keras. Pasalnya, selain harus menggembala sapinya ke kebun milik warga, setiap hari ia juga harus memotong rumput untuk pakan. Belum lagi, ketika sapinya mengamuk meski tali kekang sudah ada di genggamannya. Jika demikian adanya, maka kesabaran dan keteguhan Arif yang mengalahkan segala kesulitan itu.

Arif mengaku mengalami kebutaan sejak berusia tiga tahun akibat penyakit katarak. Pria ini pun hingga sekarang tak mengetahui siapa orangtua yang melahirkannya karena ia tinggal di panti asuhan kecil. "Saya besar di panti asuhan, jadi saya tidak tahu siapa orangtua saya karena katanya saya ini anak dibuang," ujarnya saat mengisahkan perjalanan hidupnya, Senin (2/7/2012).
Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya.
Awalnya, Arif bukanlah petani. Dulu ia bekerja sebagai tukang pijat keliling di Kota Watampone, Kabupaten Bone. Namun kerasnya persaingan membuat Arif memilih mencari usaha lain. "Sampai sekarang saya pintar urut orang, apalagi kalau cuma sakit rematik. Insya Allah bisa saya sembuhkan. Saya berhenti karena di kota sudah banyak panti pijat dan salon plus-plus," ujar Arif sambil tertawa.

Kini Arif lebih bersyukur karena tidak lagi mengandalkan bantuan orang lain. Arif hanya berharap agar segera memiliki keturunan. Sejak 10 tahun pernikahannya, ia belum dikaruniai momongan.

Saat Kompas.com berpamitan untuk pulang, ia sempat berpesan agar menghilangkan rasa putus asa dalam hidup.
Arif mencontohkan dirinya yang buta, tetapi bisa sukses dan bahagia di dalam rumah tangga bersama sang istri. "Dalam hidup tidak usah banyak berpikir kalau kita kekurangan. Jalani saja apa adanya, dan jangan terlalu banyak berharap sama bantuan orang. Kalau hati kita yakin untuk dapat mengerjakan pekerjaan itu, maka kerjakan, Insya Allah pasti selesai," kata Muhammad Arif.
Editor :
Glori K. Wadrianto

Minggu, 11 November 2012


PENGERTIAN ANAK TUNA NETRA
Tunanetra adalah suatu kondisi dari indera penglihatan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya walau sudah dikoreksi dengan alat bantu apapun.
Dipandang dari segi bahasa, kata tunanetra terdiri dari kata tuna dan netra. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1990:971) Tuna mempunyai arti rusak, luka, kurang, tidak memiliki, sedangkan netra (Depdikbud, 1990: 613) artinya mata. Tunanetra berarti rusak matanya atau luka matanya atau tidak memiliki mata yang berarti buta atau kurang dalam penglihatannya. 
Menurut Alana M. zambone, Ph.D., dalam bukunya yang berjudul Teaching Children With Visual and Additional Disabilities (Alana, 1992: 59) seseorang dikatakan buta total bila tidak mempunyai bola mata, tidak dapat membedakan terang dan gelap, tidak dapat memproses apa yang dilihat pada otaknya yang masih berfungsi.
Menurut Nakata (2003) mengemukakkan bahwa yang dimaksud dengan tunanetra adalah mereka yang mempunyai kombinasi ketajaman penglihatan hampir kurang dari 0.3 (60/200) atau mereka yang mempunyai tingkat kelainan fungsi penglihatan yang lainnya lebih tinggi, yaitu mereka yang tidak mungkin atau kesulitan secara signifikan untuk membaca tulisan atau ilustrasi awas meskipun dengan mempergunakan alat bantu kaca pembesar. Pengukuran ketajaman penglihatan dilakukan dengan mempergunakan chart internasional yang disebut eyesight-test.
Sedangkan Persatuan Tunanetra Indonesia / Pertuni (2004) mendefinisikan ketunanetraan sebagai berikut: Orang tunanetra adalah mereka yang tidak memiliki penglihatan sama sekali (buta total) hingga mereka yang masih memiliki sisa penglihatan tetapi tidak mampu menggunakan penglihatannya untuk membaca tulisan biasa berukuran 12 point dalam keadaan cahaya normal meskipun dibantu dengan kaca mata (kurang awas). Ini berarti bahwa seorang tunanetra mungkin tidak mempunyai penglihatan sama sekali meskipun hanya untuk membedakan antara terang dan gelap. Orang dengan kondisi penglihatan seperti ini kita katakan sebagai ”buta total”. Di pihak lain, ada orang tunanetra yang masih mempunyai sedikit sisa penglihatan sehingga mereka masih dapat menggunakan sisa penglihatannya itu untuk melakukan berbagai kegiatan sehari-hari termasuk untuk membaca tulisan berukuran besar (lebih besar dari 12 point) setelah dibantu dengan kaca mata. Perlu dijelaskan di sini bahwa yang dimaksud dengan 12 point adalah ukuran huruf standar pada komputer di mana pada bidang selebar satu inci memuat 12 buah huruf. Akan tetapi, ini tidak boleh diartikan bahwa huruf dengan ukuran 18 point, misalnya, pada bidang selebar 1 inci memuat 18 huruf. Tidak demikian. Orang tunanetra yang masih memiliki sisa penglihatan yang fungsional seperti ini kita sebut sebagai orang ”kurang awas” atau lebih dikenal dengan sebutan ”Low vision”.
Secara medis, anak tunanetra memiliki ketajaman visual yang kurang atau sama dengan 6/60 lapang pandangnya kurang dari 200. Sedangkan secara pendidikan anak dengan kecacatan mata adalah apabila penglihatan seseorang tidak dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan, sehingga anak tunanetra memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus. Anak yang jika dalam pemeriksaannya tidak ditemukan kelainan pada penglihatannya, maka tidak dapat dikatakan tunanetra dan tidak perlu mendapatkan pendidikan khusus.

Minggu, 04 November 2012


Sembuhkan Autisme dengan Terapi Kuda di UGM
Margaret Puspitarini
Minggu, 01 April 2012 08:02 wib
Ilustrasi : Corbis
JAKARTA - Banyak terapi yang dapat ditempuh oleh orangtua yang memiliki anak autis. Mulai dari terapi perilaku hingga interaksi dengan binatang. Baru-baru ini Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta merintis terapi berkuda bagi anak autis.

Terapi menunggang kuda ini memang belum banyak dilakukan di Indonesia. Namun, kini UGM telah membuka layanan terapi autis dengan berkuda. Program yang telah berjalan mulai awal Maret 2012 tersebut dikembangkan oleh Gadjah Mada Equestrian Center (GMEC), suatu unit kegiatan yang dibentuk bersama-sama antara unit kegiatan mahasiswa (UKM) Berkuda UGM, Laboratorium Ternak Potong dan Kesayangan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, serta Direktorat Kemahasiswaan UGM.

Ketua GMEC Edi Suryanto menyebutkan, hingga saat ini terdapat enam anak yang mengikuti terapi autis dengan berkuda. Lima di antaranya berasal dari Sekolah Autis Fajar Nugraha dan seorang siswa SLB Damayanti.

Edi menyampaikan, anak-anak penderita autis di sini diajak untuk berinteraksi dengan kuda sehingga diharapkan mampu membantu konsentrasi pada penderita. Selain itu juga membantu dalam bersosialisasi dengan anak-anak lainnya.

“Anak-anak diberikan kegiatan mulai dari memberi makan, menyisir rambut dan ekor, memandikan, memasang pelana, hingga akhirnya menunggang kuda,” kata Edi seperti dikutip dari situs UGM, Minggu (1/4/2012).

Terapi ini, lanjut Edi, mampu membantu konsentrasi dan mengurangi agresivitas penderita autis. “Berinteraksi dengan kuda menimbulkan rasa senang pada anak autis serta membantu memfokuskan konsentrasi,” ujar pria yang juga menjabat Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Pengembangan Usaha Fakultas Peternakan tersebut.

Selain membuka program terapi autis dengan berkuda, GMEC juga menawarkan sekolah berkuda (riding horse) yang mendapat tanggapan positif dari masyarakat umum. “Sekolah berkuda ini cukup mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sejak dibuka Februari lalu terdapat sekira 100 pendaftar, tapi kami hanya batasi menerima 20 orang karena baru memiliki empat ekor kuda,” tuturnya.

Psikolog perkembangan anak UGM Endang Ekowarni menyebutkan, terapi berkuda tergantung pada kondisi pasien dan terapis. Terapis autis juga harus menguasai karakter kuda, tidak untuk sekedar dikendarai.

“Semua sangat tergantung pada kondisi penderita serta kemampuan pelatih dalam melakukan terapi,” kata Endang.(mrg)(rhs)


Minggu, 28 Oktober 2012

Keanekaragaman Budaya : Perubahan Wajah bangsa
Di Amerika masyarakatnya terdiri dari berbagai daratan. Faktanya, hanya sekitar 1 persen orang Amerika asli ( U.S Census Bureau, 2009a).
Perkiraan para ahli tentang fakta di atas :
Di tahun 2020, keberagaman murid diperkirakan hampir setengah dari semua remaja usia sekolah
Di tahun 2050, populasi di Amerika di proyeksikan kira-kira menjadi 45% keturunan Inggris 31% keturunan latin, 12 % kulit hitam, 8% Asia dan 1 % penduduk asli Amerika dengan 3 % dari penduduk tersebut teridentifikasi berkelompok-kelompok (U.S census Bureau 2009c)
Kira-kira satu dari lima penduduk Amerika atau kurang lebih 20% dari populasi amerika yang berusia 5 tahun berbahasa Inggris (U.S census Bureau 2009b)
Perbedaan Budaya di dalam Sistem Mengajar
 
 
•Sebagian pelajar dan pengajar berasal dari kebudayaan yang beragam.
•Sebagian besar pengajar pendidikan khusus berasal dari ras Kaukasoid,yang lain merupakan ras Afrika-Amerika, dan ras Hispanik.
•Keberagaman pengajar menyebabkan sulit berkembangnya cara mengajar.
•Pada tahun mendatang, pemerintah merencanakan penyeragaman tenaga pengajar.
•Sebaiknya pendidik dan peserta didik berasal dari daerah yang sama agar memudahkan proses belajar mengajar
Dari asimilasi ke kemajemukan budaya
 
Tujuan dari asimilasi atau mencampurkan proses menjadi seperti orang Amerika adalah memperluas jumlah penduduk baru, Mereka diantisipasi untuk meninggalkan bahasa asli mereka, warisan,budaya kepercayaan dan kebiasaan
  Keberagaman suku tidak meminta kelompok untuk melepaskan atau menelantarkan warisan budaya mereka. Sekarang, sekolah-sekolah lebih menghargai kekayaan dan keanekaragaman yang dibawa. Keanekaragaman lebih terlihat sebagai kekuatan daripada keburukan.
Terminologi dari Keberagaman Budaya
 
•Dalam beberapa kasus sulit untuk mengidentifikasi siswa berasal dari ras apa.
•Topik keragaman budaya dan bahasa dengan mudah dapat menjadi sumber kebingungan dan kontroversi.
•Kunci untuk memulai ini semua adalah pemahaman tentang apa yang kita maksud dengan budaya.
 
Pembagian grup ras khas di Amerika
 
pAmerican indian / pribumi alaska, yaitu orang yang memiliki asal usul dalam salah satu masyarakat asli Amerika utara da memelihara indentifikasi budaya melalui afiliasi suku  atau pengakuan masyarakat.
pAsian / kepulauan Pasifik, yaitu orang yang memiliki asal usul dalam salah satu masyarakat asli dari Far East, Asia Tenggara, Pulau Pasifik atau anak benua India, daerah ini termasuk Cina, India, Jepang, Korea, Kepulauan Filipina dan Samoa.
pHispanic, yaitu orang dari meksiko, puerto rico, Kuba, Amerika tengah atau selatan atau budaya Spanyol lain atau asal tanpa memandang ras.
pNegroid( bukan keturunan Hispanic)  yaitu orang asli dari banyak ras kulit hitam di Afrika.
pKaukasoid(bukan Hispanic ) yaitu orang keturunan dari banyak orang asli Eropa, Afrika Utara, atau Asia tengah.
 
Tujuan Pendidikan Multikultural
 Ekuitas Pendidikan
Reformasi sekolah, perubahan budaya kelas dan sekolah, kurikulum harapan guru, penilaian, teks dan bahan kurikulum tersembunyi
Hubungan Manusia Global
Membangun penghargaan diri terhadap diri sendiri dan kelompok, memberi kuasa/wewenang kepada murid dan orang tua
 
Lintas Kompetensi Budaya
 
Pengetahuan dari budaya yang sama, pengetahuan dari budaya lain.
 
Budaya Pluralisme
 
Menghargai keberagaman dari semua jenis di sekolah dan masyarakat
 
Sosialisasi Rekontruksi
Menghadapi dan mengubah keyakinan dan sikap
 
Intregasi Studi
 
Tentang kelompok-kelompok etnis dan isu-isu global
 
 

 
 

 
 
 
 

Minggu, 30 September 2012

  1. Apa sih, autisme itu? Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak dengan 3 ciri atau gejala utama, yaitu gangguan pada interaksi sosial, gangguan komunikasi, dan pola tingkah laku atau minat yang repetitif dan stereotip. Gejala autisme ini sangat bervariasi dan sudah timbul sebelum anak tersebut berumur 3 tahun. Selain bervariasi, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat. Itu sebabnya, gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
  2. Bagaimana tahunya kalau anak kita autis? Kini telah dikembangkan checklist yang dinamakan M-CHAT (Modified Checklist for Autism in Toddlers) untuk mendeteksi autisme pada anak umur 16-30 bulan. Bila Anda menjawab, “Tidak”, pada tiga atau lebih di antara pertanyaan, atau dua atau lebih pertanyaan kritis pada checklist tersebut, maka sebaiknya Anda berkonsultasi pada profesional yang ahli dalam perkembangan anak dan mendalami bidang autisme.
  3. Benarkah autisme bisa dideteksi sejak bayi? Berdasarkan riset, belum ada petunjuk mendeteksi autisme pada bayi sebelum gejala muncul. Seorang ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya, mungkin sudah melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata.