Selasa, 20 November 2012

contoh makalah telaah kritis


MAKALAH TELAAH KRITIS
Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Rehabilitasi Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu: Drs. A. Salim Choiri, M.Si

Disusun oleh:
 Nama                    :SUSIANA
                                                  NIM                     :K5112069          

Pendidikan Luar Biasa
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2012

DAFTAR ISI

Halaman judul……………………………………………………     1
Daftar isi........................................................................................     2
Garis besar artikel..........................................................................     3
Telaah artikel..................................................................................     5
Kesimpulan....................................................................................     7
Daftar pustaka...............................................................................     8
Lampiran........................................................................................     9















GARIS BESAR ARTIKEL

Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif

           
Pengertian
ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas
            Ciri-ciri
a.                   inatensi,
 Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
b.                  hipersensitif, 
            tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
c.                   Impulsif
            anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Terapi sembuh 
1.                Terapi perilaku
Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi.
Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 


2.                Terapi obat
Perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti inidapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan.



TELAAH ARTIKEL

1.                  Menurut Pendapat Media

Ø    Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa ADHD berhubungan dengan fungsi otak, terutama pada bagian yang bertanggung jawab mengatur pemusatan perhatian, konsentrasi, pengaturan emosi, dan pengendalian perilaku. Terapi medis biasanya berupa pemberian beberapa macam obat dengan sasaran area tersebut, yaitu membantu memusatkan perhatian dan mengendalikan perilaku, termasuk perilaku agresif.
Ø    Teori ADHD menjadi "sindrom perilaku yang mengganggu kehidupan pribadi dan komunitas melalui kekurangan perhatian, miskin kontrol impuls, suasana hati peledak pola emosional dan tidak dapat dijelaskan agresi dan kekerasan" pertama kali menuliskan pada tahun 1890 oleh William James. Anak-anak yang orang tuanya memilih untuk mengobati orang ternoda sebagai orangtua yang buruk, sering dikutip sebagai tidak mampu mengendalikan anak mereka atau mereka dianggap sebagai orangtua malas. Mereka juga mengalami "penyesuaian emosional sosial dan kesulitan" yang menyebabkan mereka harus dipilih dan sering ditegur oleh guru mereka (National Institute of Mental Health [ NIMH] 1997; Chadd 1995).
Ø    Pada tahun 2001, American Academy of Pediatrics (AAP), dalam Pedoman Praktek Klinis, menyarankan agar ketika merawat ADHD target gejala, "dokter harus merekomendasikan obat stimulan dan / atau terapi perilaku yang sesuai." Beberapa bentuk intervensi perilaku telah ditemukan untuk menunjukkan sedikit atau tidak ada efektivitas dalam merawat pasien ADHD. Ini termasuk individu atau bermain terapi, psikoterapi jangka panjang, psikoanalisis, pelatihan integrasi sensorik, dan terapi perilaku kognitif. 

Ø    National Institute of Mental Health (NIMH) penelitian telah mengindikasikan bahwa dua modalitas pengobatan paling efektif untuk anak-anak sekolah dasar dengan ADHD adalah perawatan obat dimonitor atau sebuah program yang menggabungkan pengobatan dengan intervensi perilaku intensif (terapi perilaku).
2.                  Menurut Pendapat Pribadi

Menurut pendapat saya,anak yang mengalami ADHD memerlukan terapi atau obat-obatan yang dianjurkan oleh dokter selain itu dalam rangka penyembuhan,orang tua harus memberikan perhatian lebih untuk anak yang menderita ADHD, seperti pengaturan waktu dan mengawasi anaknya.karena anak yang menderita ADHD menunjukkan perilaku yang ingin diperhatikan oleh orang lain.Selain orang tua,guru juga sangat berpengaruh terhadap penyembuhan anak yang mengalami ADHD.karena selain dirumah,anak juga beraktifitas di sekolah,sehingga guru harus mengerti dan lebih memperhatikan anak tersebut.



KESIMPULAN

Terapi untuk anak yang menderita ADHD tidak cukup hanya dengan terapi medik atau pemberian obat-obatan yang dapat membantu memusatkan perhatian dan mengendalikan perilaku, termasuk perilaku agresif.Melainkan dalam hal ini lingkungan juga berperan dalam penyembuhan anak yang menderita ADHD,antara lain orangtua dan guru.Peran orang tua antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). Karena lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.Sedangkan guru berperan dalam pengaturan waktu saat anak berada di sekolah.
















DAFTAR PUSTAKA

http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731
http://konselorindonesia.blogspot.com/2010/12/attention-deficit-hyperactivity.html













LAMPIRAN
Sabtu, 27 Februari 2010
Terapi dan Pendampingan Anak Hiperaktif
Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global.
 ANAK ADHD atau anak yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah anak yang mengalami gangguan perilaku yang ditandai dengan inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas. Gangguan ini bersifat persisten (menetap) dan dapat muncul pada usia 5-6 tahun, manakala ia mulai memasuki jenjang pendidikan formal.
Bagaimanakah ciri anak ADHD? Bagaimana pula penanganan dan pendampingannya? Bagaimana pula kasus-kasus ini terjadi di Indonesia, khususnya Kota Bandung? Jawaban atas pertanyaan tersebut terjawab dalam seminar "Deteksi dan Penanganan anak ADHD" yang diselenggarakan RS Al Islam (RSAI) Bandung, belum lama ini.
Terus meningkat
 Jumlah anak penderita hiperaktif di Kota Bandung terus meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari angka kunjungan pasien yang masuk ke Poliklinik Tumbuh Kembang Anak RS Al Islam Bandung. Wadir Bidang Medik & Keperawatan RS Al Islam Bandung dr. Rita Herawati, Sp.Pk., tahun 2006 RSAI menerima pasien 31 orang. Akan tetapi, tahun berikutnya meningkat menjadi 40 orang.
Di beberapa negara lain, jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan di Indonesia. Literatur mencatat, jumlah anak hiperaktif di beberapa negara 1:1 juta. Sedangkan di Amerika Serikat jumlah anak hiperaktif 1:50. Jumlah ini cukup fantastis karena bila dihitung dari 300 anak yang ada, 15 di antaranya menderita hiperaktif.
"Untuk Indonesia sendiri belum diketahui jumlah pastinya. Namun, bila melihat angka kunjungan ke Poliklinik Tumbuh Kembang RS Al Islam, anak hiperaktif cenderung meningkat," ujar Rita di hadapan peserta seminar.
 Hiperaktif merupakan gangguan perilaku yang menyebabkan seorang anak sulit memusatkan perhatian. Penyebab gangguan tersebut sampai sekarang belum diketahui. Namun, kemungkinan dapat pula terjadi dan berkaitan dengan paparan efek global yang berupa racun-racun, kadar polutan dan timbal yang terus meningkat, makanan berwarna, dan virus-virus yang tidak terdeteksi selama kehamilan ataupun pascakehamilan.
 Gangguan tersebut menurut Rita bersifat organik (menetap) karena organ tubuh yang diserangnya adalah otak. Bahkan, ia beberapa ahli menyebutkan, hiperaktif merupakan penyakit degenartif (bawaan) sejak lahir. "Bila salah satu keluarga ada yang hiperaktif, turunan keluarga berikutnya terdapat pula anak yang hiperaktif," ujarnya.
 Penderita hiperaktif, kata Rita, tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Akan tetapi, yang semestinya dilakukan bagaimana si penderita tersebut diadaptasikan sedemikian rupa sesuai dengan energi yang dimilikinya. Karena pada umumnya, anak-anak hiperaktif mempunyai energi yang berlebih sehingga ia tidak dapat fokus pada satu hal.
 Proses penyembuhan anak hiperaktif memerlukan keterlibatan berbagai disiplin ilmu dan para ahli, seperti dokter anak, psikolog, ahli terapi wicara, ahli saraf anak, dan rekam medik. Pada prosesnya, penyembuhan anak hiperaktif harus melibatkan anak, orang tua, guru, dokter, dan tim ahli yang menangani.
 Dapat terdeteksi
 Anak penderita ADHD dapat terdeteksi pada saat usia anak 5-6 tahun. Ketika anak sudah mulai memasuki wilayah sosial, sekolah misalnya, aktivitasnya yang berlebih tampak lebih menonjol dibandingkan dengan anak yang lain.
 Anak ADHD dapat teridentifikasi dari tiga ciri, inatensi, hipersensitif, dan impulsif. Inatensi anak ADHD tampak dari kebiasaannya yang tidak pernah bisa diam, sulit memfokuskan perhatian pada satu hal, sering seperti tidak mendengar, sulit mengatur tugas keseharian, sering lupa, menolak tugas (PR atau tugas sekolah, dll). Akibatnya, anak ADHD sering mendapat nilai jelek. 
 "Guru yang tidak mengerti anak ADHD, akan menyebut anak itu sebagai anak yang nakal dan bodoh," kata dr. Nelly, ahli yang menangani beberapa kasus anak ADHD di RS Al Islam. Hal ini karena di kelas, anak ADHD sering membuat onar dan nilai-nilai ulangannya buruk.
 Beberapa ciri spesifik lain yang dapat dikenali, anak ADHD inatensi. Sering tidak dapat memusatkan perhatian, ceroboh, dan sulit mempertahankan perhatian dalam tugas atau aktivitas bermain. Anak ini juga tampak seperti tidak mendengar saat diajak berbicara langsung, tidak mengikuti perintah, dan sering menolak kalau diberi tugas. Perhatiannya lebih sering beralih oleh stimulus luar sehingga ia sering lupa.
 Sedangkan anak hipersensivitas tampak sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki, tidak bisa duduk diam, sering meninggalkan tempat duduk saat di kelas, sering berlari-lari, dan badannya seperti digerakkan oleh mesin. Anak ini juga sering berbicara berlebihan dibandingkan dengan anak seusianya.
Hampir sama dengan itu, anak impulsif dapat dikenali dengan seringnya menjawab sebelum pertanyaan itu selesai diberikan. Ia juga akan sangat sulit dan gelisah kalau harus menunggu giliran. Makanya, si impulsif adalah anak yang sering interupsi, mengganggu, dan nimbrung begitu saja pada saat orang lain sedang berbicara.
Tidak semua anak ADHD mengalami ketiga gangguan tersebut. Adakalanya, anak ADHD hanya mengalami gangguan satu atau dua dari gejala tersebut. Hal itu bergantung pada tipenya. Ada tiga tipe anak ADHD, yakni ADHD campuran (terpenuhi kriteria inatensi dan hiperaktivitas), ADHD predominan adalah ADHD tipe intensi dan ADHD predominan tipe hiperaktif impulsif.
 Diagnosis banding ADHD dapat diamati dengan lebih cermat. Sebab, kemungkinan anak tersebut tidak termasuk ADHD. Akan tetapi, anak yang normal tapi aktif, mengalami stres kronis, gangguan stres pascatrauma, gangguan cemas, depresi, dalam pengaruh stimulasi, mengalami gangguan belajar, atau mengalami gangguan mood dini. "Untuk kepastiannya, perlu penanganan dokter ahli dan psikolog," ungkap dr. Nelly.
 Terapi sembuh 
 Penyembuhan anak ADHD dapat dilakukan dengan terapi perilaku dan pengobatan medik. Beberapa usaha yang dapat dilakukan orang tua di rumah antara lain membuat pengaturan jadwal kegiatan dengan menerapkan sistem yang rutin, reguler, dan repetition (pengulangan). 
 Anak ADHD adalah anak yang sulit dalam mengatur sesuatu. Mereka umumnya tumbuh kembang menjadi anak yang kurang dapat mengatur diri. Lingkunganlah yang dapat membentuk struktur dalam dirinya. Rutinitas sehari-hari yang sangat ketat akan sangat membantu anak ADHD.
 Anak ADHD juga memerlukan adanya pengaturan dalam membantu pemusatan perhatian sehingga anak terhindar dari hal-hal yang bisa mengganggunya. Upayakan tempat belajar serapi mungkin. Tidak ada benda-benda yang dapat memecahkan perhatiannya seperti TV, gambar-gambar, radio, sebaiknya dihindarkan.
 Anak ADHD memerlukan pengaturan waktu bekerja. Meski demikian, usahakan waktu belajarnya singkat. Beri istirahat sejenak, lalu lanjutkan lagi. Cara kerja anak ADHD berbeda dengan anak biasa. Pada umumnya mereka lebih mampu berpikir dengan cara melalui gambar. Malah bila IQ anak tersebut diukur, kemampuannya kemungkinan di atas rata-rata, tetapi nilai yang diperolehnya justru buruk.
 Anak ADHD dapat masuk ke sekolah khusus (ekslusif) atau ke sekolah umum (inklusif) dengan guru pendamping khusus. 
 Selain pola terapi perilaku seperti itu, perkembangan baru dunia medis telah berhasil menyediakan terapi obat untuk penderita ADHD. Terapi ini sebaiknya merupakan bagian dari penanganan multi-model antara edukasi, perilaku, konseling, dan medik. 
 Pengobatan terapi medik seperti ini, kata Nelly, dapat menimbulkan efek samping, antara lain menekan nafsu makan dan gangguan tidur. Namun demikian, cukup efektif untuk 70% kasus yang terjadi. Obat dapat dipakai selama 6-7 bulan. Jika respons terapi membaik, sebaiknya penggunaan tidak diperpanjang. (Eriyanti/"PR") ***
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=16731





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar